PENGANTAR

Ada bahasa bijak mengatakan bahwa tidak selamanya yang terbelakang akan tetap terbelakang dan yang terdepan tetap di depan. Karena yang terbelakang itu, suatu waktu akan menjadi terdepan dan yang terdepan akan menjadi terbelakang. Demikin injil Markus mengatakan: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi tidak bagi Allah. Sebab, segala sesuatu mungkin bagi Allah,” Markus 10:27.

Dan nubuatan Pdt I.S. Kijne: “di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekali pun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan memimpin dirinya sendiri.” Tulis IS Kijne di Bukit Autimeri pada 25 Oktober 1925. Seakan semua firman itu mulai menjadi nyata bagi umat Katolik pribumi Papua.

Sementara Mitos di sini diduga diucapkan oleh oknum² umat gereja Katolik tertentu atas meningkatnya aspirasi, harapan dan doa bahkan tangisan umat katolik pribumi Papua dalam satu dekade terakhir. Tujuannya melakukan konter balik dan menurunkan semangat perjuangan. Menyerang psikilogis dan iman kekatolikan. Menyebar luaskan kebohongan bahwa untuk menjadi seorang uskup itu, tidak mudah, tidak sembarang.

Intinya menciptakan kontra opini agar OAP kembali kedalam kekelaman akal sehat seperti 3-4 dekade lalu. Barang kali demikian tujuan mereka. Mereka seolah-olah berupaya menentang, menyangkali dan mengabaikan kuasa firman Tuhan di atas. Tapi akhirnya peristiwa bersejarah telah terjadi pada 29 Oktober 2022, setelah 128 tahun atau lebih dari satu abad lamanya, Uskup pertama asli pribumi Papua telah dipilih Tuhan Allah sebagai gembala umatnya di Tanah Papua.

Berikut ini adalah upaya kontra opini, stigma dan mitos yang mereka ciptakan atas aspirasi kalangan akar rumput (komunias basis gerejawi) khususnya umat katolik pribumi agar mendapatkan uskup pribumi asli sebagaimana selama ini diperjuangkan secara intensif oleh umat di bawah komando generasi muda katolik progressif yang intensitasnya meningkat sejak tahun 2019, ketika beberapa Pastor salah satunya Dr. Neles Tebay, Pr meninggal dunia tiba-tiba.

  1. MEKANISME PEMILIHAN USKUP BEDA DENGAN PEMILUKADA

Mitos pertama yang diciptakan adalah pemilihan Uskup tidak sama dengan mekanisme pemilihan kepala daerah. Jadi tidak perlu demo, tidak perlu aksi-aksi. Nanti Vatikan yang tentukan bukan KWI. Bukan Uskup Agung Jakarta dll. dsb. Pernyataan demikian, diucapkan berkali-kali. Dimana-mana oleh siapa saja. Terutama oleh ‘orang-orang dalam’ tertentu. Terus disebarluaskan dari mulut ke mulut di antara para umat.

Terlihat dimedia sosial maupun media massa. Dimimbar gereja, maupun dikegiatan² komunitas basis gereja. Ini terbilang sistematis. Terus dilancarkan. Tapi tak sedikitpun mengurangi doa dan harapan umat katolik pribumi untuk tetap berjuang. Dan akhirnya.

  1. SDM PASTOR KATOLIK PRIBUMI TIDAK ADA YANG SIAP

Mitos kedua yang diciptakan adalah bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) orang asli Papua belum siap sekali. Kalau dulu sekitar tahun 2010 an ke bawah OAP belum bisa karena secara kualifikasi calon seorang uskup adalah pastor dengan gelar doktor (S3). Sesudah itu, pada tahun 2010 ke atas ketika ada pastor RD Neles Tebay, isu yang mulai beredar adalah bahwa RD Neles sakit.

Lanjut, belum mampu, apakah Neles bisa atau tidak karena pemilihan ditentukan oleh Vatikan atas usulan pihak otoritas Keuskupan Jayapura. Karena RD posisi RD Neles yang dilihat mulai berkecimpung dalam masalah politik Jakarta Papua. Lalu, tiba-tiba RD Neles Tebay Pr dkk meninggal dunia. OAP dinilai sudah tidak punya figur yang mumpuni.

  1. GEREJA KATOLIK ITU UNIVERSAL

Mitos ketiga yang beredar adalah gereja Katolik itu universal atau umum. Jadi tidak harus OAP, siapapun boleh jadi Uskup nanti tinggal lihat siapa yang Tuhan pilih. Meskipun benar bahwa gereja Katolik adalah universal tetap saja ada upaya/motif terselubung didalamnya.

Lanjut Maka untuk melawan argumentasi ini, saya pernah usulkan untuk menguji apakah Tuhan Allah yang rasis atau manusia dengan cara: semua calon uskup yang nanti diajukan kepada Vatikan oleh Uskup adalah semua imam asli Papua biar kita nilai selama ini apakah benar Tuhan Allah yang rasis atau manusia dengan segala konspirasi kepentingannya.

Disini kita bisa lihat apakah dari semua calon uskup itu ada yang Tuhan acc atau tidak. Bila tidak ada sama sekali yang Tuhan pilih, maka benar OAP belum layak dimata Tuhan. Bisa kita anggap Tuhan Allah yang rasis. Tapi jika ada satu dari sekian calon yang bisa terpilih, maka selama ini yang rasis adalah manusia. Artinya: dengan alasan² syarat formal adminstratif, OAP terkendala. Sehingga mereka yang dianggap layaklah yang terpilih.

Lanjut Namun, terlepas dari siapa² saja para imam sebagai calon uskup yang diajukan, Tuhan telah menunjuk uskup Mgr Yan You sebagai rasulnya bagi seluruh umat Katolik Papua hari ini.

  1. TIDAK BOLEH DEMO DI GEREJA KARENA SAMA DENGAN DEMO TUHAN ALLAH DST

Terkait dengan poin 1,2, 3 di atas, maka mitos keempat yang mulai dikembangkan oleh umat konservatif Katolik Papua tertentu, adalah bahwa tidak boleh demo di gereja. Gereja tidak boleh dijadikan tempat aksi² dari kepentingan apapun. Gereja bukan tempat demo. Stop bikin kacau di Gereja.

Lanjut Gereja ini rumah Tuhan dst dsb. Kita masih ingat misalnya pelarangan aksi demo di gereja Waena dlm rangka menolak kebijakan Uskup Merauke dengan aksi sumbangan sukarela. Bahkan di beberapa paroki beredar informasi tidak ramah dan tidak akomodatif, bahwa tidak perlu demo-demo di gereja dst dsb.

Padahal kenyataannya secara historis dan hakiki, gereja sebagai tempat dan bangunan kediaman Allah adalah tempat sasaran aksi demonstrasi damai kepada Tuhan Allah oleh umat sejak hadirnya. Manusia dengan berbagai tujuan, motif, harapan dan kesalahan serta dosa² selalu menjadikan gereja sebagai sasaran meminta Tuhan Allah menjawab dan mengabulkan serta mengampuni aspirasi setiap umat.

Lanjut Namun perbedaannya terletak pada mekanisme demonstrasi atau penyampaian aspirasi yang memiliki teknik dan metode khusus. Demonstrasi biasa vs doa tanpa interupsi yang lebih soft. Jadi, apakah benar bahwa gereja bukan tempat untuk umat Allah berdemo pada Tuhan?

  1. DEMO DI GEREJA ATAU MELAWAN OTORITAS GEREJA ITU DOSA DAN AKAN TERKUTUK

Saya ingat betul bagaimana aparatus gereja katolik pada tahun 2016 silam mulai menyebarkan info hoaks bahwa bila berani melawan otoritas gereja, maka akan hidup menderita, susah, celaka dll dsb. Maksudnya bahwa akan dapat kemalangan dan kutukan bagi siapapun yang melawan dengan demo membangkang pada keputusan ‘wakil Tuhan’.

Lanjut Bahkan pihak konservatif juga menceritakan bahwa ada orang² tertentu yang di Papua yang menjadi malang hidupnya karena pernah melawan hierarki atau otoritas gereja Katolik.

Meskipun demikian, akhirnya terbukti, bahwa semuanya hanyalah konsep dan konspirasi manusia semata yang berniat jahat. Bagi kami, manusia tetap hanyalah manusia.Tidak bisa secara mutlak disamakan atau menglorifikasi diri seperti Tuhan. Jadi, selama yang bicara adalah masih manusia dan gerakan atau aspirasi umat untuk memiliki pastor atau minimal suara kenabian yang konkret tidak terealisasi, maka otoritas gereja semacam itu patut dipertanyakan. Dan hasilnya hari ini kita telah memiliki uskup baru.

PENUTUP

Sejak kehadirannya pada akhir abad ke 19 akhirnya, setelah 128 tahun atau hampir satu setengah abad kemudian, pada 29 Oktober 2022 seorang imam pribumi bangsa Papua, bernama Pastor Dr. Drs. Yanuarius T. M. You, Pr. MA terpilih atau ditunjuk oleh Tuhan Allah untuk menjadi rasul dan gembala di atas derita jemaatnya di tanah surga kecil yang jatuh ke bumi ini.

Lanjut Ditunjukknya Mgr. Yan You, Pr sekaligus membuka tabir stigmatisasi, mitologisasi, diskriminasi dan rasialisme dalam batang tubuh otoritas gereja Katolik Roma di atas tanah bangsa Papua. Ditunjuknya RD Mgr.You menjadi babak baru gereja Katolik Papua untuk berdiri pada kaki dan rahimnya sendiri.

Ini adalah sinyal Tuhan Allah bahwa sudah waktunya, kebebasan dan kesetaraan itu benar-benar harus diwujudnyatakan di atas tanah ini secara komprehensif dan luas. Inilah saatnya orang-orang Katolik Papua bangkit memimpin dirinya sendiri. Ini alarm Tuhan, ini bagian dari upaya Tuhan mempersiapkan sosok Musa bagi pembebasan bangsa Papua dari penindasan firaun.

Lanjut Terima kasih Tuhan Allah, Leluhur moyang bangsa Papua dan selamat datang gembala kami, Mgr. Yanuarius You, Pr. Selamat menjalankan tugas imamat dan pengembalaan domba-domba yang masih tercerai berai dan menderita di atas tanah air mereka.

Tuhan Allah, moyang dan leluhur bangsa rakyat Papua memberkati setiap langkah aktivitas pelayanan hidup bapa Uskup hari ini sampai seterusnya.